- Puisi Andiyono Mbok Darmi -

Didi C

SECANTIK REMBULAN

Secantik rembulan

Wajahmu begitu anggun menghiasi dunia malam

Meleburkan batu kerekahan

Dalam bias nada-nada dering

Dan melodi kata

Merajut igauan manja

Yang ku pancarkan ke dinding kepekaan jiwa

Hari mulai sepi

Dan rentetan kejadian itu

Melelehkan kristal hijau

Yang baru selesai di pasung

Oleh bait-bait puitis pemulung

Kaleng-kaleng bekas tempat daging-daging olahan kimia

Sumenep, 19 Oktober 2007

MENGAPA

Mengapa ini terjadi

Bayangmu ku peluk erat dalam tidurku

Senyummu ku telan mentah-mentah

Dan tawa riang telah cukup wakili

Gemuruh kemunafikan yang berdengung

Di emperan mal-mal keparat itu

Di manakah ketulusan bersemayam ?

Di pucuk lalang yang bergoyang

Atau di daun-daun yang mengering

Serta rumput-rumput yang meranggas

Ah, jangan bercanda!

Mereka terlalu lelah untuk berdiskusi

Cukupkan saja pertemuan ini

Melangkahlah sendiri-sendiri

Pijaklah tanah-tanah yang tandus

Dengan berpayung air mata

Malang, Oktober 2007

MALAM BERBALUT AWAN YANG TIPIS

Malam berbalut awan yang tipis

Bintang-bintang itu memang masih berkelipan

Namun pendarnya seakan hambar

Dan aroma khas rembulan mulai luntur

Seiring dingin yang merangkul tubuhku

Mempererat rangkulannya

Malang, Oktober 2007

MERESAPLAH

Meresaplah dalam pelukannya

Nikmati setiap kehangatan dari tubuhnya

Lalu, pejamkan matamu sesaat

Maka bayang-bayang indah mengucur deras

Dari pancuran kehidupan

Mengaliri parit-parit yang menuju istana khayalan

Malang, Oktober 2007

MEREKAH

Merekahlah senyum indah itu

Mengawali hari dengan keriangan

Dan bait puitis yang indah mulai menjalar

Memberikan sentuhan hangat ke sekujur persendian hidupku

Maka lagu-lagu romantis pun terus mengalun

Menghibur hati para gadis yang terlelap di ranjangnya

Sesaat yang lalu

Air gerimis masih menuruni tangga langit

Dan mengukir wajah dingin di tembok-tembok ruang

Namun pelangi mulai menampakkan wajah ranumnya

Hingga petir yang bergemuruh terpaksa mengalah

Dan memberikan roda kehidupan ke sisinya

Embun yang berdiskusi dengan pagi mulai kelelahan

Dan sinar sang surya tampak bergelantungan di reranting langit

Tak jauh beda dengan monyet-monyet nakal di rimba

Ah, begitu sempurna kerlingan matamu itu

Angin pun sempat berbisik :

” Aku terhanyut dalam keindahan tatapnya ” bisiknya lirih

Mungkin kau tercipta untuk menaklukan kelakianku

Hingga aku tergigil bila tak melihat pancaran wajahmu

Malang, Oktober 2007

KELU

Aku mulai berbisik

Berkata lirih pada dedaunan yang rimbun

Karena lidah terciprati kekeluan

Malang, Oktober 2007

KETIKA

Ketika aku ingin memeluk serpihan bayangmu

Tetesan kesedihan mencair

Dan merembesi ranjang tidurku

Mimpi yang masih basah mengering

Tercerabut dari belantara kasih

Malang, 2007

KEPADA ANGIN

Kepada angin yang mendesau syahdu

Aku ingin menitipkan setitik rindu

Untuk gadis yang terpulas

Di seberang sana

Dan nyanyian merdu dalam hati kian berderu

Memberikan suasana baru yang biru

Aku hanya ingin yang sederhana

Tak usah sempurna

Asal semua terasa indah

Aku akan bersorai, seperti

Anak monyet yang menemukan sebatang

Pisang

Malang, Oktober 2007

DOA

Doa yang ku pajang di ketiak hari

Telah di kabulkan sang pemilik alam

Sebab langit mulai menyenandungkan lagu hujan

Dan sebentar lagi

Warna-warni pelangi akan menggantung

Di tiang langit

Sumenep,19 Oktober 2007

PELANGI

Pelangi yang ku khayalkan

Sebentar lagi akan melayang di angkasa

Sebab rinai gerimis mulai menggantung di awan

Sumenep, 19 Oktober 2007