
SECANTIK REMBULAN
Secantik rembulan
Wajahmu begitu anggun menghiasi dunia malam
Meleburkan batu kerekahan
Dalam bias nada-nada dering
Dan melodi kata
Merajut igauan manja
Yang ku pancarkan ke dinding kepekaan jiwa
Hari mulai sepi
Dan rentetan kejadian itu
Melelehkan kristal hijau
Yang baru selesai di pasung
Oleh bait-bait puitis pemulung
Kaleng-kaleng bekas tempat daging-daging olahan kimia
Sumenep, 19 Oktober 2007
MENGAPA
Mengapa ini terjadi
Bayangmu ku peluk erat dalam tidurku
Senyummu ku telan mentah-mentah
Dan tawa riang telah cukup wakili
Gemuruh kemunafikan yang berdengung
Di emperan mal-mal keparat itu
Di manakah ketulusan bersemayam ?
Di pucuk lalang yang bergoyang
Atau di daun-daun yang mengering
Serta rumput-rumput yang meranggas
Ah, jangan bercanda!
Mereka terlalu lelah untuk berdiskusi
Cukupkan saja pertemuan ini
Melangkahlah sendiri-sendiri
Pijaklah tanah-tanah yang tandus
Dengan berpayung air mata
Malang, Oktober 2007
MALAM BERBALUT AWAN YANG TIPIS
Malam berbalut awan yang tipis
Bintang-bintang itu memang masih berkelipan
Namun pendarnya seakan hambar
Dan aroma khas rembulan mulai luntur
Seiring dingin yang merangkul tubuhku
Mempererat rangkulannya
Malang, Oktober 2007
MERESAPLAH
Meresaplah dalam pelukannya
Nikmati setiap kehangatan dari tubuhnya
Lalu, pejamkan matamu sesaat
Maka bayang-bayang indah mengucur deras
Dari pancuran kehidupan
Mengaliri parit-parit yang menuju istana khayalan
Malang, Oktober 2007
MEREKAH
Merekahlah senyum indah itu
Mengawali hari dengan keriangan
Dan bait puitis yang indah mulai menjalar
Memberikan sentuhan hangat ke sekujur persendian hidupku
Maka lagu-lagu romantis pun terus mengalun
Menghibur hati para gadis yang terlelap di ranjangnya
Sesaat yang lalu
Air gerimis masih menuruni tangga langit
Dan mengukir wajah dingin di tembok-tembok ruang
Namun pelangi mulai menampakkan wajah ranumnya
Hingga petir yang bergemuruh terpaksa mengalah
Dan memberikan roda kehidupan ke sisinya
Embun yang berdiskusi dengan pagi mulai kelelahan
Dan sinar sang surya tampak bergelantungan di reranting langit
Tak jauh beda dengan monyet-monyet nakal di rimba
Ah, begitu sempurna kerlingan matamu itu
Angin pun sempat berbisik :
” Aku terhanyut dalam keindahan tatapnya ” bisiknya lirih
Mungkin kau tercipta untuk menaklukan kelakianku
Hingga aku tergigil bila tak melihat pancaran wajahmu
Malang, Oktober 2007
KELU
Aku mulai berbisik
Berkata lirih pada dedaunan yang rimbun
Karena lidah terciprati kekeluan
Malang, Oktober 2007
KETIKA
Ketika aku ingin memeluk serpihan bayangmu
Tetesan kesedihan mencair
Dan merembesi ranjang tidurku
Mimpi yang masih basah mengering
Tercerabut dari belantara kasih
Malang, 2007
KEPADA ANGIN
Kepada angin yang mendesau syahdu
Aku ingin menitipkan setitik rindu
Untuk gadis yang terpulas
Di seberang sana
Dan nyanyian merdu dalam hati kian berderu
Memberikan suasana baru yang biru
Aku hanya ingin yang sederhana
Tak usah sempurna
Asal semua terasa indah
Aku akan bersorai, seperti
Anak monyet yang menemukan sebatang
Pisang
Malang, Oktober 2007
DOA
Doa yang ku pajang di ketiak hari
Telah di kabulkan sang pemilik alam
Sebab langit mulai menyenandungkan lagu hujan
Dan sebentar lagi
Warna-warni pelangi akan menggantung
Di tiang langit
Sumenep,19 Oktober 2007
PELANGI
Pelangi yang ku khayalkan
Sebentar lagi akan melayang di angkasa
Sebab rinai gerimis mulai menggantung di awan
Sumenep, 19 Oktober 2007




