- Puisi Andiyono #2

TERGELETAK

Aku tergeletak di ranjau yang tak ku kenal

Mengapung di antara luruhan mesiu

Yang beradu dengan kilatan ultraviolet

Indah merajut duka di tepian angkasa

Senyum merajam di belatung-belatung mimpi

Dan petikan getar alam begitu merdu

Mengalun di cuping senja

Sumenep, 17 Oktober 2007

SEPUTIH BUIH

Seputih buih di lautan

Rindu ini bersemayam dalam dada

Menajam dalam balutan awan

Dan kata-kata basah dengan rintihan perawan

Aku tetap tegak memandangi ombak

Yang berkicau dengan nada baru

Sumenep, 17 Oktober 2007

BERCERITA

Aku mulai bercerita tentang rindu

Tapi aura jiwa tak dapat menganalisis pekatnya aksara

Yang terendam di puingan prasasti malam

Bulan masih menyabit

Dan gemintang tak jua luruh ke pangkuanku

Padahal, bintik hitam mulai berjalan

Menyisiri padang indah tubuh kata

Yang ku baluti dengan wewangian taman firdaus

Sumenep, 15 Oktober 2007

CITA

Aku ingin berbaring

Tapi dengan elusan mesra rintik gerimis

Dan alas pelangi yang rimbun nan sejuk

Malang, 01 Oktober 2007

TERPENJARA

Aku sudah tak berdaya

Seluruh urat saraf motorik di kerangkeng

Oleh kebeningan matanya

Malang, 01 Oktober 2007

PUTUS ASA

Tak ada lagi gumpalan asa

Yang dapat ku jaga

Karena bibit cita-cita mulai tergerogoti paruh pipit

Yang sedikit memerah

Apa yang tersisa

Hanyalah puing mimpi yang menepi

Malang, 01 Oktober 2007

ABJAD

Barisan abjad terus mengintaiku

Dalam linang semangat

Yang mengepul di jejak tajam sang musafir

Dan angin yang berdesau lirih

Kian menusuki pori tubuhku dengan belaiannya

Yang merangsang diri

Untuk berkecupan dengan bibir malam yang dingin

Malang, 22 September 2007

BIBIR MIMPI

Manis kecup bibir

Mengambang di puing-puing mimpi

Karena aku pawang hujan

Yang terendam di lautan

Malang, 31 Agustus 2007

HIDUP DAN MATI

Untuk hidup

Kita tak pernah merasa cukup

Untuk mati

Kita tak mau mengerti

Sumenep, 2006

KAMI

Kami lahir dari bibir wanita jalang

Tumbuh dan dewasa oleh desakan angin malam

Peluh kami selalu menetes jadi bara api

Yang siap membakar para pemakan roti

Biar luapan penderitaan mendera tubuh kami

Kami akan tetap tunjukkan kepalan tangan

Tak perduli mesiu menembus

Bahkan merobek jantung kami

Asal hati tetap merah saga

Kaki kami tak kan tersandung jeruji besi

Selama anjing menggonggong di atas monas

Dan kucing mengendap-ngendap di kolong jembatan

Tikus pun selalu cari-cari kesempatan

Kami pun memasang jebakan

Karena, tangan kami terasa gatal

Melihat mereka berbantal kemunafikan

Sumenep, 2006