TERGELETAK
Aku tergeletak di ranjau yang tak ku kenal
Mengapung di antara luruhan mesiu
Yang beradu dengan kilatan ultraviolet
Indah merajut duka di tepian angkasa
Senyum merajam di belatung-belatung mimpi
Dan petikan getar alam begitu merdu
Mengalun di cuping senja
Sumenep, 17 Oktober 2007
SEPUTIH BUIH
Seputih buih di lautan
Rindu ini bersemayam dalam dada
Menajam dalam balutan awan
Dan kata-kata basah dengan rintihan perawan
Aku tetap tegak memandangi ombak
Yang berkicau dengan nada baru
Sumenep, 17 Oktober 2007
BERCERITA
Aku mulai bercerita tentang rindu
Tapi aura jiwa tak dapat menganalisis pekatnya aksara
Yang terendam di puingan prasasti malam
Bulan masih menyabit
Dan gemintang tak jua luruh ke pangkuanku
Padahal, bintik hitam mulai berjalan
Menyisiri padang indah tubuh kata
Yang ku baluti dengan wewangian taman firdaus
Sumenep, 15 Oktober 2007
CITA
Aku ingin berbaring
Tapi dengan elusan mesra rintik gerimis
Dan alas pelangi yang rimbun nan sejuk
Malang, 01 Oktober 2007
TERPENJARA
Aku sudah tak berdaya
Seluruh urat saraf motorik di kerangkeng
Oleh kebeningan matanya
Malang, 01 Oktober 2007
PUTUS ASA
Tak ada lagi gumpalan asa
Yang dapat ku jaga
Karena bibit cita-cita mulai tergerogoti paruh pipit
Yang sedikit memerah
Apa yang tersisa
Hanyalah puing mimpi yang menepi
Malang, 01 Oktober 2007
ABJAD
Barisan abjad terus mengintaiku
Dalam linang semangat
Yang mengepul di jejak tajam sang musafir
Dan angin yang berdesau lirih
Kian menusuki pori tubuhku dengan belaiannya
Yang merangsang diri
Untuk berkecupan dengan bibir malam yang dingin
Malang, 22 September 2007
BIBIR MIMPI
Manis kecup bibir
Mengambang di puing-puing mimpi
Karena aku pawang hujan
Yang terendam di lautan
Malang, 31 Agustus 2007
HIDUP DAN MATI
Untuk hidup
Kita tak pernah merasa cukup
Untuk mati
Kita tak mau mengerti
Sumenep, 2006
KAMI
Kami lahir dari bibir wanita jalang
Tumbuh dan dewasa oleh desakan angin malam
Peluh kami selalu menetes jadi bara api
Yang siap membakar para pemakan roti
Biar luapan penderitaan mendera tubuh kami
Kami akan tetap tunjukkan kepalan tangan
Tak perduli mesiu menembus
Bahkan merobek jantung kami
Asal hati tetap merah saga
Kaki kami tak kan tersandung jeruji besi
Selama anjing menggonggong di atas monas
Dan kucing mengendap-ngendap di kolong jembatan
Tikus pun selalu cari-cari kesempatan
Kami pun memasang jebakan
Karena, tangan kami terasa gatal
Melihat mereka berbantal kemunafikan
Sumenep, 2006




